July 22, 2015

aku sudah memenuhi keinginanmu.
tapi mengapa kamu tetap saja hadir dalam setiap mimpi burukku.

July 10, 2015

saatnya

Beberapa hari lalu aku menghadiri sebuah acara, biasa..
Saat bulan puasa seperti ini akan ada banyak "buka bersama" yang serentak diadakan berdekatan. Teman lama, bercengkrama dan menceritakan kesibukan masing - masing.
Pada dasarnya, aku memang terlalu banyak bicara, sampai akhirnya aku menyadari topik pembicaraan pada saat itu.

Aku tertegun,
Kembali memikirkan sesuatu yang kupikir tidak akan ada habisnya jika aku membahasnya
Kemudian aku mengetahui sesuatu yang...
Yang selama ini menjadi momok pikiran yang selalu aku resahkan

Sakit medengarnya,
Perasaan kecewa yang berangsur menghilang seketika menguar kembali dan sepertinya kini akan meledak
Aku hanya bisa tersenyum heran mendengarkaan kenyataan yang baru saja aku dengar
Kemudian, aku kembali terlarut dalam pikiran..
Yang sudah seharusnya aku tinggalkan, mungkin sejak awal percakapan itu.

Berminggu - minggu sudah berlalu, harapan yang awalnya aku kira akan segera terwujud
Nyatanya tidak akan pernah terjadi
Seseorang yang diperjuangkan itu telah melihat titik dimana kami memang tidak seharusnya berjalan bersama
Entah karena ego atau mungkin memang untuk kebaikan kami
Kini aku sadar,

Tidak semua yang aku lihat baik baik saja.
Aku telah berusaha memberikan yang terbaik,
Tapi ternyata aku melupakan sebuah sisi dimana hal itu justru yang membuat semuanya hancur, hancur berkeping keping.
Nyatanya, aku tidak berani berbuat sesuatu.
Aku takut akan kenyataan bahwa semua ini menyakitkan
Aku tidak berani melangkah untuk berjuang lagi karena aku takut semuanya sia - sia.

"Kamu kalah sebelum berperang."
Tidak, memang aku akui itu. Aku memang sudah kalah.
Perasaan yang tidak perah di inginkanku sebelumnya, kalah.
Tapi, kali ini aku kalah karena berusaha untuk mengalah,
mengalah pada waktu,
mengalah pada jarak,
mengalah pada semua hal yang menyakitkan.
Sudah cukup untuk berjalan bersama, katanya.
Semua sudah berbeda, katanya
Kita tidak sama, katanya
Dan sudah seharusnya kita berjalan masing - masing.
Seingatku, dihari itu dia mengatakan begitu,

Tapi kini aku tahu, dia menyerah karena sesuatu hal yang tak pernah aku sadari sebelumnya.
Sedih memang tapi aku sadar mungkin ini yang terbaik untuknya, meski kupikir ini sedikit menyakitkan.
Tapi akan kucoba untuk memenuhi keinginannya.
Meskipun pilihan untuk merelakan sungguh sangat menyakitkan, apalagi dengan melupakan.
Dan akupun sadar, masih banyak yang harus aku hadapi di depan sana.

, 10 Juli 2015