Tak lain tak bukan kini harus kuakui keinginan ku menulis sungguh amat jatuh terkubur,
Oh, bahkan menulis dalam catatan harian sekarang bagaikan catatan bulanan, seperti iuran RT lingkungan pemukiman. Itupun, terkadang menyenangkan karena seseorang yang bisa kuceritakan pembaharuannya.
Entahlah, belakangan ini aku cukup tersibukan dengan kegiatan perkuliahan, organisasi hingga hiruk pikuk kehidupan sosial.
Meringis, mengingat dahulu aku sangat mendambakan kehidupan kampus, meringis mengingat terlalu lugunya pikiran kala itu ketika aku merasa segala sesuatunya lebih terbebaskan.Yah, namanya juga penyesalan..akan selalu berada pada ekor peristiwa.
Aku merindu segala sesuatunya, aku merindu rasa aman dan kenyamanan yang mungkin tidak pernah aku syukuri bahkan sadari keadaannya. Malu rasanya mengingat setiap hal pada masalalu aku tergesakan tanpa menyadari hal hal itu akan aku rindukan kini dan nanti.
Dan kini aku merasa harus selalu makin mensyukuri apa yang terjadi pada setiap harinya.
Ketidaknyamanan yang aku rasakan dewasa ini mungkin disebabkan karena aku yang baru mengetahui sisi lain dunia, aku selama ini terjaga dalam lingkup dunia yang sekeji itu, setamak itu, sekotor itu. Aku sadar aku hidup pada akhir zaman, memang tiada yang dapat memprediksikan secara akurat kapan hari itu akan datang. Tapi ketakutan dalam diri ini yang membuat hati semakin meringis melihat dunia yang tidak pernah membaik, aku menjadi menangis dalam hati. Karena bahkan sebelum umurku berkepala 2 aku tidak dapat melakukan hal besar seperti yang mereka lakukan.
Ketahuilah aku sedang menjadi manusia yang egois, tapi bukankah semua manusia itu egois?












